UPAYA PENINGKATAN KUALITAS TELUR ASIN DENGAN TEKNOLOGI PROSES PENYANGRAIAN DI KORONG BARI KANAGARIAN SICINCIN KABUPATEN PADANG PARIAMAN
Salah satu pengasinan yang praktis seperti yang dilakukan masyarakat di Korong atau desa Bari Kanagarian Sicincin, Kabupaten Padang Pariaman adalah pengasinan dangan menggunakan medium: garam, abu dapur dan air. Pengasinan cara ini membutuhkan waktu pemeraman yang lebih pendek yaitu 3 hari. Namun kelemahan dari pengasinan cara ini adalah telur asin yang dihasilkan kurang awet, yakni hanya tahan selama 2 hari. Jadi diperlukan perlakuan lain terhadap telur asin ini sehingga daya simpannya dapat diperpanjang dan kualitas gizi dapat dipertahankan.
Korong Bari Kanagarian Sicincin merupakan salah satu daerah produsen telur asin yang cukup besar di Padang Pariaman. Jumlah produsen telur asin yang ada di
daerah tersebut berkisar sekitar 8-10 produsen, dengan rata-rata produksi per hari sekitar 500 – 1000 butir telur asin dan harga telur asin Rp. 2000,-/ butir. Jadi dengan kendala masa simpan yang pendek pada telur asin tersebut, sementara produksi cukup besar, maka diperlukan upaya pengolahan lebih lanjut yaitu dengan proses penyangaraian untuk meningkatkan masa simpan telur asin dengan kualitas gizi yang dapat dipertahankan.
Telur asin yang diolah dengan menerapkan teknologi proses penyangraian merupakan perbaikan mutu dari produk telur asin dengan kelebihan lebih tahan lama, karena pada proses penyangraian akan terjadi pengurangan kadar air telur, sehingga telur lebih awet. Selain itu kelebihan lain yaitu rasa amis yang kurang terasa, tekstur putih dan kuning telur yang lebih halus. Uji laboratorium yang telah dilakukan Subandiyah, Rahmawati, dan Alies (2006) menyatakan bahwa terjadi penurunan kadar air telur asin rebus dari 42.77% menjadi 37.09% setelah dilakukan penyangraian selama 1 jam. Lebih lanjut Marisa (2007), juga melaporkan bahwa sampel telur asin yang diambil dari kanagarian sicincin yang diolah dengan proses penyangraian dengan lama penyangraian 60 menit dan memiliki masa simpan 20 hari menghasilkan kadar air 63%, kadar protein 12, 79% dan Kadar lemak 11,74%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan teknologi proses penyangraian dapat meningkatkan masa simpan telur asin di Kanagarian Sicincin yang semulanya hanya memiliki masa simpan 2 hari dengan tetap mempertahankan nilai gizinya.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dilakukan kegiatan pengabdian masyarakat tentang ” Upaya Peningkatan Kualitas Telur Asin dengan Teknologi Proses Penyangraian di Kanagarian Sicincin Kabupaten padang Pariaman”.
SELENGKAPNYA
MANAJEMEN PAKAN PADA ITIK
Kamis, 11 Juni 2015
